Minggu, 26 Mei 2013

candi ceto

Pukul 23.21 malam ini hari minggu 26/05/2013 saya sempatkan menulis untuk sekadar berbagi wawasan mengenai wisata dan peninggalan sejarah yang ada di Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah. Tepat hari Sabtu kemarin saya bersama 2 teman saya mas dito dan dik agung secara mendadak pergi ke salah satu candi peninggalan hindu di Karanganyar tepatnya di candi Cetho. Candi yang terletak diketinggian sekitar 1600meter di atas air laut ini sedikit unik dengan candi-candi lainya yang ada di daerah Yogyakarta. Di dalam candi ini banyak terdapat relief berbentuk kura-kura yang saya tidak tahu lambang itu merepresentasikan apa? kemudian di candi itu juga terdapat baru berbentuk penis atau alat kelamin pria yang saya sendiri tidak tahu hal ini merepresentasikan apa?







Satu hal yang cukup menari yang mungkin muncul dalam pertanyaan saya adalah kenapa candi yang berada di tengah pulau Jawa dan terletak diketinggan seperti itu malah banyak ditemukan simbol-simbol hewan yang terdapat di dalam lautan seperti kura-kura, katak, ikan pari, dan ikan apa lagi yang saya tidak tahu bentuknya. menurutku pasti ada penjelasan yang menarik jika diteliti lebih lanjut.


Kemudian dibagian lain tetapi masih dalam satu area candi terdapat sendang atau air mancur yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat namanya sendang saraswati, sendang ini lumayan cukup bagus karena sudah dipugar oleh pemerintah kota setempat, lebih jauh 300meter dari candi cetho terdapat canti yang namanya unik yaitu candi kethek. lokasi yang jauh dan jalan yang terjal dan curam membuat candi ini jarang didatangi oleh pengunjung sehingga tempatnya terlihat bersih dan agak seram, berikut foto-foto yang sempat saya abadikan lewat handphone saya.

Sabtu, 25 Mei 2013

Bentik

Bentik adalah permainan tradisional Jawa yang sering dimainkan oleh anak-anak desa di daerah solo. permainan ini mungkin di daerah lain juga ada namun mungkin mempunyai nama yang beda. Bentik adalah permainan ketangkasan yang menggunakan 2 bilah kayu, yang pertama berukuran 30cm diameter 1-1,5cm biasa terbuat dari batang kayu jambu dan bilah yang kedua berukuran lebih pendeng 10cm.

Permainan ini biasanya dimainkan di tanah yaitu dengan meliangi tanah sebagai tempat meletaknya anak bilang yang kecil kemudian dicungkil dengan bilang yang lebih panjang. Permainan ini memang sedikit mempunyai resiko kecelakaan besar kalau tidak hati-hati karena yang dipakai adalah kayu keras. Cara permainannya adalah satu orang sebagai penjaga dan satu orang sebagai pemain. ada tiga istilah dari permainan ini pertama cungkil, esek-esek, dan titik lele. 

permainan ini seru sekali dimainkan karena siapa yang kalah nanti gantian jaga. pemain dikatakan kalah apabila bilah yang kecil dilempar dan mengenai bilah panjang sangat cungkil pertama. permainan ini mempunyai sistem poin untuk menyelesaikannya.

Omplong

Bagi sebagian anak Jawa khususnya daerah Solo yang lahir di tahun 1980-1990 pasti akan banyak mengenal permainan lama yang umumnya memanfaatkan barang bekas atau lainnya untuk dijadikan permainan. Nah salah satu permainan tradisional yang dulu sering saya maenkan salah satunya adalah permainan omplong.

Omplong adalah jenis permainan ketangkasan yang melatih kita untuk tepat mendidik sasaran dengan sebuah lemparan. permainan ini memanfaatkan kaleng bekas, bisa susu, cat atau yang lain sebagai sarana utamanya. sedangkan sarana keduanya adalah batu atau pecahan bata atau genting sebagai alat yang nantinya dilempar agar mengenai kaleng bekas tersebut.

Secara etimologis kata omplong mungkin tidak bisa ditelusuri, namum jika diliat dari sisi penamaan sepertinya omplong berasal dari bunyi plong yang terjadi jika kaleng itu terkena lemparan. jadi bisa disimpulkan nama omplong berasal dari anomatope atau tiruan bunyi.

Cara permainan omplong ini sangat sederhana yaitu pertama letakan kaleng bekas di tanah yang lapang, kemudian dari pusat kaleng tersebut kita kasih jarak biasanya 3-4 meter sebagai garis lempar. jika lemparan kurang dari garis tersebut maka pelempar gagal mempunyai kesempatan melempar kaleng atau istilah "mbedeng" dan jika batu yang kita lempar semakin jauh berarti kita pelempar pertama yang mendapat giliran sedangkan yang semakin dekat dengan garis menjadi yang terakhir. kemudian jika ada satu pemain yang gagal mengenai sasaran maka dia menjadi penjaga kaleng bekas dan yang lain berlari untuk bersembunyi. permainan ini umumnya dilakukan oleh anak-anak kecil dan saya sangat bangga ketika permainan ini masih dimaenkan di desa kami saat ini.

 maaf untuk sekedar membantu mendeskripsikan saya tampilkan foto permainannya meskipun fotonya kurang bagus.. :)

Sabtu, 11 Mei 2013

Bekerja

Selapas masa kuliah atau sekolah pastinya setiap orang punya harapan untuk segera bekerja. Hampir bisa disimpulkan 85 persen lulusan setara SMA dan sarjana berduyung-duyung untuk melamar dan mencari pekerjaan. Hal ini memang tidak sepenuhnya salah, karena saya pun  pernah mengalami hal yang sama namun apakah langkah ini sepenuhnya benar semua tergantung darimana kita memandangnya.

Sesuatu yang mendasar ketika kita lulus kuliah atau sekolah tentunya kita akan merasa bangga dengan titel atau gelar yang diterima namun terkadang kebanggaan itu membawa diri kita ke sesuatu yang kurang tepat misalnya kita menjadi seorang yang sok mempunyai kemampuan dan gelar sehingga pilih-pilih pekerjaan. Sebenarnya sah-sah saja ketika kita mempunyai idealisme dan pilih-pilih pekerjaan yang terbaik namun terkadang kita juga harus melihat diri kita sendiri apakah kita mampu menggapai hal impian itu. Pernyataan ini bukannya untuk menggemobosi semangat atau apapun namun pernyataan ini bisa kita jadikan sebagai motivasi dimana kita lebih memperbaiki kompentesi diri kita.

Pengalaman pertama saya, setelah lulus kuliah adalah bekerja di salah satu sekolah perhotelan yang ada di kota Solo. Saat itu saya melamar sebagai seseorang yang dicari skillnya di bidang kebahasaan namun karena sesuatu hal saya malah dioper ke departeman lain yaitu departemen Industry Placement mungkin seperti career development program jika di universitas lainnya. Sekitar 4 kali seingat saya untuk mendapatkan pekerjaan itu. mulai dari interview hrd, kemudian lolos hingga ke vice direktur dan director. Dalam test itu saya lebih banyak mengalami dengan wawancara bahkan tidak sama sekali menggunakan test tertulis. 

Ada banyak hal yang saya peroleh dari test wawancara cara itu terutama dari Ibu Endang, beliau adalah direktor yang saya anggap pintar dalam memainkan psikologis peserta test. Ingat ketika saya harus menjawad pertanyaan beliau ketika ditanya kamu mau gaji berapa? waktu itu jawaban saya adalah saya mau diminta sesuai dengan kebijakan kantor namum hal itu tampaknya salah jawaban bukan itu yang dia minta saya harus menyebutkan nomimal angka akhirnya saya minta 1,5jt karena saya lulusan S1. Saat itu tiba-tiba saya terkejut ketika dia melontarkan pernyataan kamu bisa apa minta gaji sebesar itu? aku pun kelabakan dan akhirnya muncul jawaban klasik saya pekerjaan keras bla..bla..bla. #basi banget pokoknya jawabanku. Ketika aku menjawad itu Ibu Endang pun langsung memotong semua orang juga bisa ngomong seperti itu, kemudian dia mengatakan yang saya butuhkan adalah orang yang tidak hanya mampu bicara tapi juga mampu mempertanggungjawadkan ucapannya. 

Dari pengalaman itu ada satu hal yang penting untuk dipertimbangkan yaitu apa benar kita memang mampu melamar di posisi itu atau hanya sekadar iseng-iseng berhadiah.  Karena menurut saya seperti memilih pekerjaan yang pas dan tempat yang tepat mampu mendidik karakter kita untuk menjadi pekerja yang baik. Jika kita dibesarkan di lingkungan kerja yang baik saya yakin saat kita keluar kita akan menjadi pekerja yang baik dan nantinya mempunyai nilai tawar yang bagus jika kita melamar di tempat lain.

Pelemkerep

Pelemkerep adalah sebuah nama desa di salah satu kelurahan Tohudan, Kec. Colomadu, Kab. Karanganyar. Desa yang terdiri dari 2 RT ini ditinggali kurang lebih 70 Kartu Keluarga. Luas desa yang kira-kira sama dengan 5 kali luas lapangan bola ini mempunyai daya tarik sendiri bagi pendatang atau tamu yang maen ke kampung kamu. Jalan yang lebar dan tata desa yang menarik membuat desa ini sering di puji oleh tamu yang datang dari tempat lain.
Desa yang cukup kental dengan lingkungan yang baik, membuat anak-anak di desa ini tumbuh menjadi pribadi yang luar biasanya. Lingkungan desa yang dekat dengan fasilatas pendidikan mulai dari TK hingga Kampus menjadikan desa ini sangat baik untuk perkembangan anak. Di desa pelemkerep sendiri terdapat 1 TK, 1 SD, 1 STM, dan 1 LPK Cahaya Mandiri.

Secara umum latar pendidikan anak usia remaja lumayan baik, mulai dari lulusan ATMI maupun Universitas lainya. Selain itu mayoritas keluarga yang berasal dari lingkungan PNS membuat orang tua paham akan pentingnya pendidikan. Tak hayal hampir mayoritas anak-anak remaja banyak yang jadi guru ataupun TNI dan Polri.

Pelemkerep desa yang berasal dari nama pelem yang berarti mangga dan kerep yang berarti banyak/ sering memang menyimpan banyak eksotisme dan semoga desa ini tetap indah dan mampu mempertahankan kebaikannya.


Kamis, 09 Mei 2013

Jam Tangan

Sebenarnya malam ini saya sudah sangat ngantuk, tapi tiba-tiba pengen nulis sedikit tentang apa yang ada dalam benakku. Akhir-akhir ini,  setelah aku ketemu dengan pak kris teman relasi kerja yang punya hobi mengoleksi jam tangan membuat aku makin jatuh hati pada alat penanda waktu yang satu ini. Jam tangan bagiku sekarang adalah cerminan jatidiri dan identitas siapa aku. Mungkin banyak orang tidak begitu paham dengan apa yang mereka kenakan ditangan mereka tp bagiku apa yang kukenakan ditanganku adalah jatidiriku terutama jam tangan.

Aku memang belum begitu mengenal banyak jam tangan, dari mulai merk dan kualitasnya namun aku selalu rajin membaca blog-blog yang berkaitan dengan hal yang satu ini. Banyak istilah baru yang aku temui di bidang kolekter jam tangan, misalnya kata bazel, jawel, merk jam titus, dll. Untuk menjadi seseorang yang ahli di bidang ini sepertinya tidak mudah, sangat sulit bagi orang baru untuk mengetahui apakah jam-jam yang ada saat ini ori atau kw apalagi jam-jam antik atau kuno yang keberadaannya ada di toko-toko jam luakan. Minggu lalu kebetulan saya maen ke salah satu pasar di solo dan saya menemukan bapak-bapak penjual jam tangan loak akhirnya saya beli 2 jam tangan dengan merk lobor dan mathey-tissot.

Hanya dengan 40rb rupiah akan mendapatkan jam tangan itu. Dengan kondisi jam mati dan jelek akupun seneng banget karena saya pikir saya nemuin jam tangan antik siapa tahu nanti harganya mahal klo dijual. Namum pada kenyataannya pahit satu jam yang aku beli dengan merk Lobor mati dengan biaya ganti bateri dan reparasi jam itupun kondisi masih jelek selain itu ternyata jam tangan ini KW. Biaya ganti baterai dan reparasinya ternyata lebih mahal dari harga jamnya. namun yang sedikit membuatku senang salah satu jam yang aku beli keliatannya Ori. Dengan bantuan google aku mencari merk itu dan aku menemukan merk yang sama dengan seri dan bentuk yang sama dan setelah sedikit aku tanyain ke tukang jam katanya juga Ori meskipun kondisi fisik jamnya sudah tidak 100% lagi.

Ini sepenggal kisah mengenai hobi baruku, yaitu hunting jam tangan kuno dan berharap ada nilai ekonomis dan rasa senang dengan hobi baruku ini..

Jumat, 03 Mei 2013

Apa ceritaku

hai salam hangat dari wiji..

dalam kertas virtual ini saya pengen cerita tentang apa yang saya alami dan apa yang dialami oleh temanku. bermula dari tongkrongan malam di salah satu coffee shop di jogja kami temen satu kelas sering ngobrol hal-hal yang ga jelas. namun sebagai seorang cwo jelas topik kami tidak lepas dari sebuah makhluk yang indah yaitu seorang perempuan.

hari-hari sebelumnya pembicaraan hanya terbatas soal kuliah, tugas, dosen. tapi belangkangan ini pembicaraan mulai mengarah ke kejujuran isi hati dari masing-masing temen. bermula dari permainan yang dilontarkan oleh J temen kami yaitu permainan true or dare kami makin ketagihan bermain dengan permainan yang sedikit lucu itu.

satu persatu kami pun saling menjawad dengan jujur atas pertanyaa dari beberapa temen, mulai dari soal cwe yang disukai, pernah ciuman atau tidak dll tapi masih dalam koridor sopan. permainan yang lucu itupun sampe sekarang masih kita mainkan meskipun sudah tidak ada lagi pertanyaan yang bisa kita berikan untuk mengorek informasi dari salah satu dari kami.

dari semua perjalanan obrolan kami lambat laun, tidak ada lagi rahasia tentang kami. rahasia dalam arti yang sederhana bukan semuanya. dari malam per malam saya amati ada kecenderungan bahwa semakin malam seseorang mulai lebih terbuka untuk urusan cinta dll. yang paling berkesan adalah kemarin malam ketika semuanya bercerita tentang kisah cintanya yang lucu-lucu. satu persatu satu mereka bercerita mengenai hubungan mereka saat pacaran, proses pendekatan dll, lucu dan variatif sekali cerita, mungkin untuk beberapa cerita mungkin bisa jadi tema film ftv,.. haha tp satu hal yang tidak bisa bercerita itu semua yaitu aku,.. aku yang payah 27th lum pernah apa-apa, 27th yang hanya pernah suka ma seseorang yang sampe sekarang tidak bisa mengucapkannya.. :)

Kamis, 02 Mei 2013

Tips Ikut Bazar atau Pameran Untuk Pemula

Tepatnya hari sabtu dan minggu tanggal 27 dan 28 April 2013, saya mengikuti pameran di sebuah event kampus dengan skala fakultas. Event bazar dan pameran industri kreatif yang digagas oleh para mahasiswa D3 ekonomi UGM ini sebenarnya saat bagus. Karena selain memberikan pembelajaran bagi mahasiswa dalam mengelola sebuah event, kegiatan ini juga diharapkan memberikan wadah bagi para industriawan kreatif muda untuk menunjukan produknya.

Selain event pameran industri kreatif itu, ada juga program bazar yang juga diselenggarakan di halaman gedung itu. Tujuan bazar ini jelas selain untuk menopang dan meramaikan agenda pameran industri kreatif juga bisa dijadikan tempat untuk jualan para entrepreneur muda. Dengan pamflet iklan yang di pajang dibeberapa tempat saya pun tak sengaja membaca info ini, hingga saya putuskan untuk ikut berkontribusi diajang bazar.

Singkat cerita, aku membeli stand untuk ikut ajang bazar itu. dengan membaca proposal kegiatan dengan target pengunjung yang besar serta publikasi yang mereka lakukan sebelumnya saya yakin pasti target pengunjung akan tercapai atau bahkan membludak.

Harapan itupun tiba-tiba sirna saat dihari pertama tidak lebih dari 100 orang yang datang ke stand bazar itu. jelas ini akan berbanding lurus dengan penjualan batikku. Jam demi jam aq sabar menunggu hingga saat itu tidak satupun batik yang terjual. Hari kedua harapan muncul lagi kerena di depan stand yang aku jual terdapat pameran kaki lima atau sanmor UGM di luar dugaan juga tidak banyak orang yang mampir di stand yang ada dihalaman gedung UGM itu tp alhamdulilah hari itu minimal batiku terbeli 2 pcs meskipun harus memotong harga yang lumayan banyak

Dari event itu jelas banyak pelajaran yang saya terima, pengalaman pertama mengikuti bazar yang luar biasa meskipun jelas saya banyak rugi dari mulai waktu, tenaga, pikiran dan tentunya uang. bertitik tolak dari kejadian ini saya mau sedikit share buat temen-temen yang nantinya ingin mengikuti bazar untuk pertama kalinya atau pemula. hal pertama yang harus kita lakukan untuk mengikuti bazar yang pertama jelas soal apa yang akan kita jual, trus perlengkapan apa yang harus kita siapkan untuk menunjang dengan apa yang kita jual. namun ada yang lebih penting dari itu adalah bagaiman kita harus pandai untuk melihat prospek dari bazar ini. beberapa hal yang perlu kita perhatikan adalah:
  1. membaca proposal event itu secara teliti, mulai visi misi, tujuan, jenis pameran dan yang terpenting adalah target pengunjung.
  2. mengasah kepekaan kita apakah benar-benar target pengunjung nanti bener-bener terwujud.
  3. menyiapkan barang yang kita jual dengan melihat karakter konsumen. misal bazar kampus dan target pengunjung mahasiswa jelas jangan menjual barang dengan harga mahal.
  4. melihat potensi apakah nanti barang kita akan laku atau tidak, karena kita harus beli stand klo jualan kita tidak laku maka rugilah kita.
  5. kalau bisa, joint dengan teman untuk membeli stand sehingga mengurai resiko kerugian pembelian stand kalau tidak laku,
  6. persiapkan mental dan fisik karena akan sangat bosan jika pameran itu sepi pengunjung.
  7. minimal 2 orang teman yang ada di stand karena kita bisa bergantian jika kita pengen ke toilet atau sholat.
  8. jaringlah networking baru dengan stand sebelah-sebelah anda karena siapa tahu nanti kita bisa saling kerjasama saat akan ikut pameran selanjutnya.
mungkin itu aja yang bisa aku share semoga bermanfaat.. :)

Kamis, 25 April 2013

Etika dan Moral Berbahasa



ETIKA DAN MORAL BERBAHASA

A.    Latar Belakang Masalah
Manusia pada hakikatnya menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi.   Untuk menjadi sebuah alat komunikasi yang efektif, manusia mendesain bahasa dengan sistem bunyi dan simbol yang sederhana. Sistem bunyi dan simbol yang sederhana tersebut diharapkan mampu mempermudah manusia dalam menyatakan gagasan, ide, pemikiran dan persaannya lewat bahasa. Bahasa adalah sebuah warisan budaya yang tidak ternilai harganya karena dengan bahasa kita mampu mengembangkan ilmu pengetahuan, mampu berpikir kritis, dan berinteraksi satu sama lain. Secara tidak sadar mungkin manusia mengganggap bahwa bahasa bukan merupakan salah satu penemuan yang luar biasa karena bahasa dan manusia seakan-akan bersanding dan beriringan sejak lahir hingga dewasa.
Bahasa dan manusia bisa disebut sebagai satu kesatuan utuh yang tak terpisahkan. Manusia membutuhkan bahasa untuk segala aspek kehidupannya dan bahasa membutuhkan manusia karena pada hakekatnya bahasa diciptakan oleh manusia. Manusia mengembangkan peradaban dengan menggunakan bahasa, manusia mengembangkan pemikirannya melalui bahasa hingga akhirnya manusia hidup bergantung dengan bahasa. Bahasa tidak bisa dianggap remeh dalam kedudukan sebagai unit atau bagian dari kehidupan. Bahasa mempunyai peran dan tanggungjawad yang penting untuk mengontrol kehidupan dan sosial karena bahasa mempunyai kekuatan yang luar biasa melebihi kekuatan bom atom atau bencana alam jika bahasa itu disalah gunakan. Banyak contoh bisa kita lihat dengan bahasa provokatif orang bisa saling bunuh, dengan bahasa orang bisa menghasut  suku satu dan suku lainnya hingga bentrok, dengan bahasa Negara satu dan Negara lain bisa berperang karena terjadi kesalahpahaman. Itulah yang bisa terjadi, jika bahasa tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan munculnya sebuah masalah.
Bahasa sebagai alat komunikasi pada dasarnya juga sangat berperan penting dalam ilmu pengetahuan. Dalam konteks ini bahasa dikembangkan dan digunakan sebagai sarana untuk berpikir ilmiah. Kemampuan bahasa untuk menginterpretasikan sebuah ide atau gagasan manusia dari sesuatu yang bersifat abstrak/konsep menjadi sesuatu yang lebih konkret menjadi sebuah tulisan atau acuan merupakan keunggulan utama bahasa dibanding alat komunikasi lainnya. Karena fungsi dan peran penting sebuah bahasa dalam kehidupan, pada abab XX bahasa mulai dipelajari dan dikembangkan menjadi sebuah ilmu bahasa akan tetapi jauh sebelumnya seseorang yang pertama kali mengembangkan dan mempelajari bahasa bernama Panini. Dia adalah seorang ahli bahasa india terkenal yang hidup pada abab III sebelum masehi, yang mempelajari bahasa sanksekerta dalam kitab-kitab suci orang brahmana dan surat-surat veda (Samsuri, 1988). Bermula dari sinilah ilmu bahasa berkembang dan menjadi suatu ilmu pengetahuan yang berperan penting dalam kehidupan hingga beberapa ahli bahasa dari Eropa, Amerika bahkan Indonesia berbondong-bondong mempelajari bahasa.
Sebagai sebuah ilmu pengetahuan, banyak sekali ahli yang memberikan definisi tentang apa itu bahasa. seperti Kridalaksan (2005) menyakatakan bahwa bahasa sebagai sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri. Kemudian Mustansyir (1988: 17) memberikan definisi bahwa bahasa adalah warisan manusia yang paling berharga dari generasi satu ke generasi lainnya dan bahasa adalah warisan yang hidup dan berkembang yang harus dipelajari. Karena bahasa itu hidup dan berkembang maka tidak menutup kemungkinan bahwa bahasa bisa berkembang atau mati seiring pembangunan dan kemajuan zaman.

Dari definisi mengenai bahasa di atas bisa diartikan bahwa, bahasa sama halnya seperti manusia yang bisa mengalami fase lahir, hidup, berkembang, dan mati. Untuk itu bahasa harus dilestarikan dan dikembangkan oleh penuturnya atau manusia. Sebagai makhluk hidup yang paling sempurna manusia dibekali dengan segala macam kelebihan dan keunikan salah satunya kemampuan berbahasanya. Oleh karena itu, Ernest menyebut manusia sebagai Animal Symbolycum, yaitu makhluk yang mempergunakan simbol. Secara generik istilah ini mempunyai cakupan yang lebih luas dari istilah homo sapiens, sebab dalam kegiatan berfikir manusia mempergunakan simbol (Suhartono, 2005: 49). Bahasa sebagai sarana komunikasi antar manusia, tanpa bahasa tiada komunikasi. Tanpa komunikasi apakah manusia dapat bersosialisasi, dan apakah manusia layak disebut sebagai makhluk sosial? Sebagai sarana komunikasi maka segala yang berkaitan dengan komunikasi tidak terlepas dari bahasa, seperti berfikir sistematis dalam menggapai ilmu dan pengetahuan. Dengan kata lain, tanpa mempunyai kemampuan berbahasa, seseorang tidak dapat melakukan kegiatan berfikir sebagai secara sistematis dan teratur. Dengan kemampuan kebahasaan akan terbentang luas cakrawala berfikir seseorang dan tiada batas dunia baginya.
Bahasa sebagai alat untuk menyampaikan jalan pikiran dalam seluruh proses berpikir ilmiah. Yang dimaksud bahasa disini ialah bahasa ilmiah yang merupakan sarana komunikasi ilmiah yang ditujukan untuk menyampaikan informasi yang berupa pengetahuan, syarat-syarat: bebas dari unsur emotif, reproduktif, obyektif dan eksplisit. Suhartono (2005:47) manusia dapat berpikir dengan baik bahkan secara abstrak karena kemampuannya berbahasa. Berkat bahasa manusia dapat berpikir secara berlanjut, teratur, dam sistematis. Seperti yang sudah diungkapkan di atas bahasa pada dasarnya mempunyai tiga fungsi, yakni sebagai fungsi simbolik, emotif, dan afektif. Dalam komunikasi keilmuan, fungsi simboliklah yang perlu diusahakan menonjol, antara lain lewat penggunaan istilah yang khas dan spesifik maknanya, dan gayanya yang ringkas dan jelas.

Peran bahasa dalam kehidupan sangatlah vital baik dalam kehidupan yang sifatnya individu maupun kelompok. Karena pada umumnya bahasa difungsikan sebagai alat komunikasi yang digunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Berkaitan dengan kegiatan berpikir ilmiah, bahasa merupakan salah satu sarana untuk berpikir ilmiah selain logika, matematika, dan statistika. Sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang pengetahuan untuk mengembangkan materi pengetahuannya berdasarkan metode ilmiah atau secara sederhana, sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi metode ilmiah dalam melakukan fungsinya secara baik. Fungsi sarana ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah dan ia bukan merupakan ilmu itu sendiri.
            Sebagai sebuah sarana berpikir ilmiah bahasa dalam pemakainnya bahasa dibatasi oleh kaidah atau aturan supaya bahasa tidak digunakan secara menyimpang dalam menyampaikan ilmu pengetahuan dan informasi. Aturan dan kaidah ini biasanya bersifat konvensi atau kesepakatan penuturnya sehingga tidak semua orang semena-mena bisa menuturkan bahasa dengan sistem dan etika yang tidak benar. Misalnya: kita tidak bisa dengan manasuka membolak-balik kata dalam tuturan kita karena akan membingungkan orang lain (kecuali di karya sastra), kemudian kita tidak bisa menggunakan bahasa kotor atau buruk untuk menghina orang, instansi atau lembaga karena akan berdampak buruk bagi yang dihina, selain itu kita juga tidak boleh menggunakan bahasa yang menyesatkan orang lain seperti bahasa iklan atau bahasa hipnotis. Oleh karena itu, kita harus bermoral dalam berbahasa. Karena setiap kata yang kita ucapkan mempunyai nilai dan kandungan moral di dalamnya. Pertanggungan jawad secara moral akan kita pikul dalam setiap kata yang kita tuturkan, sehingga kita harus memilih kata-kata yang tepat dalam bertutur agar tidak menyinggung dan merusak citra orang lain.


Moral adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap kewajiban dan sebagainya. pengertian moral juga memiliki kesetaraan atau kesamaan arti dengan pengertian akhlak, budi pekerti dan susila. Berbicara mengenai moral berarti sama halnya dengan bicara mengenai etika. Etika atau ethos adalah kata yang berasal dari yunani yang berarti kebiasaan, custom. Dalam bahasa latin kata untuk kebiasaan adalah mos, dan dari sinilah asal mula kata moral, moralitas, mores. Secara etimologis, etika mempelajari kebiasaaan manusia yang sebagian terdiri dari konvensi-konvensi seperti cara berpakaian, tata cara, tata krama, etiquette, dan yang lain.
Jika dilihat secara sepintas memang tidak ada hubungan antara bahasa dan moral akan tetapi sebenarnya keduanya saling berhubungan. Karena dalam bahasa juga terdapat norma dan etika yang mengatur manusia untuk berbahasa. Dari dasar itulah maka muncul pertanyaan apakah ada hubungan antara bahasa dan moral, Bagaimana bentuk bahasa yang bermoral, dan seperti apa bentuk penyelewengan bahasa yang tidak mengandung moral. Untuk lebih jelasnya mari kita cari hubungan antara moral dan bahasa.
B.      Hubungan Antara Bahasa dan Moral.
Bahasa adalah alat untuk menyampaikan jalan pikiran dalam seluruh proses berpikir ilmiah. Bahasa disini berarti bahasa ilmiah yang dipakai sebagai sarana komunikasi ilmiah yang ditujukan untuk menyampaikan informasi yang berupa pengetahuan, syarat-syarat: bebas dari unsur emotif, reproduktif, obyektif dan eksplisit. Dan manusia dapat berpikir dengan baik bahkan secara abstrak karena kemampuannya berbahasa. Berkat bahasa manusia dapat berpikir secara berlanjut, teratur, dam sistematis. Sedangkan moral adalah segala sesuatu yang mengacu pada baik dan buruknya manusia sebagai manusia. Artinya moral tidak hanya memandang baik buruk dari profesi atau keberadaan manusia sebagai pelaku peran misalnya sebagai dosen, tukang bakso, insiyur, ustad atau dokter, melainkan sebagai manusia. Bidang moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikan sebagai manusia (Suseno, 1987: 19).
Norma-norma moral merupakan tolok ukur menentukan betul-salahnya sikap dan tindakan manusia jika dilihat dari baik buruknya sebagai manusia dan bukan sebagai pelaku peran tertentu dan terbatas. Norma menurut Suseno (1987) secara umum dibagi menjadi 3 yaitu norma sopan santun yang menyangkut sikap lahirliah manusia, walaupun sikap lahirliah dapat mengungkapkan sikap hati dan karena itu mempunyai kualitas moral, namun sikap lahirliah sendiri tidak bersifat moral. Kedua norma hukum adalah norma yang tidak dibiarkan dilanggar, jika dilanggar akan dikenai sanksi atau hukuman. Sedangkan yang terakhir norma-norma moral adalah tolok-tolok ukur yang dipakai masyarakat untuk mengukur kebaikan seseorang. Maka dengan norma-norma moral seorang individu bener-bener dinilai, oleh kerena itu penilaian moral selalu berbobot.
Dalam berbahasa manusia juga dibatasi oleh norma-norma tertentu, baik norma internal dari bahasa dan norma eksternal dari bahasa. secara internal bahasa mempunyai norma dan sistem yang diberlakukan seperti sistem yang berlaku secara fonologis, sintaksi, semantik dan seterusnya. Kaidah atau norma ini jika dilanggar konsekuensinya adalah kerancuan atau keambiguan, sehingga bahasa tidak lagi mampu menjadi alat penyampai pesan yang tepat dan efisien. sedangkan norma atau kaidah yang berasal dari ekternal berasal dari lingkungan sosial meliputi norma-norma sopan satun, hukum, dan moral. Jika bahasa tidak digunakan dengan tepat misalnya seorang anak berbicara kotor atau berbicara tidak sopan kepada orang tua berarti anak itu melanggar norma sopan santun, sehingga secara moral anak itu tidak baik karena mempunyai prilaku yang melanggar norma. Akan tetapi dalam konteks ini, sebuah pelanggaran bahasa anak tadi tidak akan dapat sanksi hukum karena kasus ini bersifat normatif. Berbeda dengan orang yang menggunakan bahasa untuk tujuan kriminal seperti menghipnotis, menggunakan bahasa untuk penipuan, dan  menggunakan bahasa untuk menjelek-jelek nama perusahan atau perorangan di publik maka pelaku bahasa itu selain melanggar norma moral juga melanggar norma hukum yang bisa saja pelaku dituntut di meja pengadilan.
Dari urainn di atas bisa disimpulkan bahasa dan moral sangatlah berhubungan. Bahasa dipakai manusia sebagai alat komunikasi sedangkan etika dan moral dipakai manusia untuk membatasi manusia dalam menggunakan bahasa agar bahasa itu dapat digunakan dengan bijak dan efisien, tidak menyimpang dan melanggar norma-norma.

C.     Bentuk Bahasa yang Bermoral.
Bahasa adalah alat komunikasi yang dipakai manusia untuk berkomunikasi dan berinteraksi antar individu sedangkan moral adalah segala sesuatu perbuatan yang mengacu pada baik buruknya manusia sebagai manusia. Bahasa yang bermoral adalah bahasa yang mampu menyampaikan pesan dengan baik dan efisien tanpa ada unsur yang melanggar norma. Moralitas adalah kualitas dalam perbuatan manusia yang dengan itu kita berkata bahwa perbuatan itu benar atau salah. Moralitas mencakup pengertian tentang baik buruknya perbuatan manusia. (Poespoprodjo, 1986: 102)
Setiap manusia tentunya berharap dalam kehidupannya akan jauh dari pelanggaran moral, karena melanggar moral bukanlah kesalahan biasa seperti kita salah dalam mengerjakan tugas, ujian atau salah mengoper waktu bermain bola. Melanggar moral adalah sesuatu yang menyangkut manusia sedalam-dalamnya. Sedangkan perbuatan yang bermoral adalah perbuatan atau tindakan berupa kebaikan yang sedalam-dalamnya pula. Masalah moralitas sendiri menurut Poespoprodjo (1986: 103) dibagi menjadi 2 yaitu moralitas intrinsik dan ekstrinsik. Moralitas intrinsik memandang perbuatan menurut hakikatnya bebas lepas dari setiap bentuk hukum positif. Yang dipandang hanya apakah perbuatan baik atau buruk pada hakikatnya, bukan apakah seorang telah memerintahkannya atau telah melarangnya. Sedangkan moralitas ekstinsik adalah moralitas yang memandang perbuatan sebagai sesuatu yang diperintahkan atau dilarang oleh seseorang yang kuasa, atau oleh hukum positif, baik dari manusia asalnya maupun dari Tuhan.
Bahasa yang bermoral hendaknya menjadi pilihan kita dalam setiap berkomunikasi atau menyatakan sebuah informasi. Dengan mencoba menggunakan bahasa yang bermoral kita akan jauh dari pelanggaran-pelangaran norma yang ada di kehidupan sosial. Bahasa yang bermoral adalah bahasa yang jauh dari kesan kekaburan makna dan menyesatkat pendengar atau pembacanya. bahasa bermoral akan membawa kita sebagai manusia seutuhnya, manusia yang tahu hakikatnya. Hakikat manusia adalah berbuat baik untuk diri sendiri dan orang lain.

D.    Seperti Apa Bentuk Penyelewengan Bahasa yang Tidak Mengandung Moral.
Manusia dan bentuk pelanggaran memang tidak bisa lepas semua pasti saling berjalan beriringan. meskipun manusia adalah makhluk yang sempurna dari ciptaan yang lain tapi bukan berarti manusia tidak jauh dari kesalahan baik kesalahan individu atau kelompok. Manusia menciptakan norma dan kaidah bagi dirinya sendiri dan kelompok untuk sebuah tatanan kehidupan yang sistematis dan teratur. Norma dibuat untuk menjaga prilaku dan kencenderungan manusia yang selalu ingin bertindak bebas sesuai dengan keinginannya.
Pemakaian bahasa dalam kehidupan sehari-hari memang tidak bisa jauh dari pelanggaran norma baik yang berasal dari unsur intralinguistik dan ekstralinguistik. Pelanggaran itu bisa saja muncul karena beberapa faktor yaitu jika melanggar norma atau kaidah intralinguistik berarti kemampuan pemahaman manusia terhadap kaidah atau norma bahasa itu rendah. Hal ini mungkin bisa terjadi karena manusia itu tidak mengenyam pendidikan dengan baik atau tidak mempunyai kesempatan untuk menuntut ilmu sehingga kesalahan dalam berbahasa sifatnya wajar meskipun itu juga akan menjadi hambatan ketika berkomunikasi.
Jika dilihat dari pelanggaran yang bersifat ekstralinguistik, ini bisa terjadi karena beberapa faktor yang pertama adalah karena manusianya punya niat tidak baik, yaitu untuk berbohong, menyesatkan, dan untuk provokatif. Jika manusia melakukan tindakan ini, berarti manusia itu sudah melanggar norma dan etika berbahasa, sanksinya pun jelas selain akan mengalami sanksi sosial dari masyarakat sanksi pidanapun bisa jadi diterimanya. Salah satu contoh kasus pelanggaran yang sering kita lihat misalnya bahasa iklan yang terkadang menyesatkan, meskipun dalam bahasa iklan ada hal yang bersifat persuasif dan menawarkan sesuatu namum pilihan katanya kurang pas dan kurang tepat sehingga dapat menjebak konsumen. Misalnya: Iklan ramuan Ny. Ulfa, Pelangsing, Terhebat, Tersehat, Tanpa Diet, Turun 7-20 kg, Perut susut 6-12cm, Membentuk Lekuk Tubuh Indah, Solusi Pasti Buat Anda Yang Ingin Tampil Langsing, Sexy, Mempesona Dan Awet Muda Bebasa Obesitas Untuk Pria Dan Wanita 100% Aman Ramuan Herbal Sangat Efektif. Kalimat ini jika dilihat memang terlihat wajar namun hati-hati sesuatu hal yang berlebihan biasanya bersifat manupulatif atau kebohongan sehingga terkadang konsumen terjebak dengan bahasa iklan yang provokatif dan mengada-ada, contoh lain bisa kita temui di koran atau sekeliling kita.


SIMPULAN

Bahasa adalah alat komunikasi yang diciptakan oleh manusia untuk berkomunikasi, berpikir, mengidentifikasi diri dan mengklasifikasin sesuatu. Meskipun secara keilmuan bahasa merupakan sarana untuk berpikir ilmiah selain matematika dan statistik. Kemampuan bahasa dalam menjelaskan sesuatu dengan tepat dan cermat serta mampu menyampaikan ide dan konsep pemikiran manusia yang rumit menjadi lebih simpel dan mudah dipahami adalah keunikan dari sebuah bahasa. seperti yang diungkapkan oleh filsuf Ernest Cassirer (1874) manusia dibekali dengan segala macam kelebihan dan keunikan salah satunya kemampuan berbahasanya. Oleh karena itu, Ernest menyebut manusia sebagai Animal Symbolycum, yaitu makhluk yang mempergunakan simbol.
Kemampuan manusia dalam berbahasa ini hendaknya bisa digunakan dengan bijaksana dan bermanfaat. Sebagai mana fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi, interaksi, sosialisasi, indentifikasi, klasifikasi, dan sebagainya. Namun dalam kenyataannya banyak orang yang memanfaatkan bahasa atau komunikasi mereka untuk hal-hal yang tidak baik atau yang melanggar aturan, norma, dan etika. Tujuannya bermacam-macam yaitu untuk kebohongan, penipuan, mengungkapkan marah, dan sebagainya. Salah satu contoh pelanggaran etika berbahasa yang lazim dijumpai adalah seorang anak yang berkata kasar atau berbicara tidak sopan kepada orang tua. Hal itu tidak boleh terjadi karena selain melanggar norma sopan santun anak itupun juga melanggar etika dalam hirarki keluarga. Pelanggaran penggunakan bahasa lainnya sebenarnya masih banyak dan tidak mungkin dijelaskan satu persatu di makalah ini.
Pemanfaatan bahasa yang bijak dan baik hendaknya selalu kita usahakan dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan bahasa yang baik setidaknya tidak membawa kita jauh ke arah pelanggaran norma dan etika berbahasa. Selain itu menggunakan bahasa yang baik akan menambah nilai diri kita di mata orang lain lain seperti ungkapan dalam bahasa Jawa; ajining diri ono ing lati. Artinya penilaian seseorang terhadap diri kita terletak pada tindak tutur dan bahasa kita, jika kita suka berbicara kasar dan suka menyakiti perasaan orang lain dengan bahasa kita maka kita dinilai atau dicap sebagai seseorang yang berwatak buruk dan berbudi pekerti baik. Jika kita suka berbohong dan omong besar kita akan dicap sebagai pembual. Sehingga kita harus pandai membawa kita ke porsi yang tepat dalam berbahasa agar mendapat citra yang baik dalam kehidupan.


DAFTAR PUSTAKA


Kridalaksana, Harimurti.2009. Kamus Linguistik. Jakarta: PT. Gramedia.
Margono, dkk. 1994. Ilmu Alamiah Dasar. Surakarta: UNS Press
Poespoprojo. 1986. Filsafat Moral (kesusilaan dalam teori dan praktek ). Bandung: CV Remaja Karya.
Samsuri, 1988. Berbagai Aliran Linguistik Abab XX. Jakarta: P2LPTK
Suseno, Franz Magnis. 1987. Etika Dasar (Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral). Yogyakarta: Kanisius.
Suhartono, Suparlan. 2005. Sejarah Pemikiran Filsafat Modern. Jogjkarta: Ar Ruzz Media
Suhartono, Suparlan. 2004. Dasar-Dasar Filsafat. Jogjakarta: Ar Ruzz Media
Sumarsono. 2007. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.







Kamis, 25 Oktober 2012

Analisa Data Kosakata Bahasa Ainu dan Basque Shiroo Hattori



Analisa Data Kosakata Bahasa Ainu dan Basque
Shiroo Hattori


A.    Pendahuluan

Linguistik Historis Komparatif  (Linguistik Bandingan Historis) menurut, Gorys Keraf adalah suatu cabang dari ilmu bahasa yang mempersoalkan bahasa dalam bidang waktu serta perubahan-perubahan unsur bahasa yang terjadi dalam bidang waktu tersebut. Kajian ini mempelajari data-data (lisan atau tulisan) dari suatu bahasa atau lebih, sekurang-kurangnya dalam dua periode. Sebagai kajian yang bersifat diakronis maka (LHK) mengkaji sebuah bahasa pada masa yang tidak terbatas. Data-data dari suatu bahasa dari dua periode atau lebih itu diperbandingkan secara cermat untuk memperoleh kaidah-kaidah perubahan yang terjadi dalam bahasa itu. Demikian pula pada hal yang sama dapat dilakukan terhadap dua bahasa atau lebih kemudian unsur-unsur itu dibandingkan berdasarkan fakta-fakta bahasa dalam periode yang sama maupun perubahan-perubahan yang telah terjadi antara beberapa periode.
Tujuan dan kepentingan dari Ilmu Linguistik Historis Komparatif ini adalah (1) mencari kekerabatan bahasa yaitu dengan cara mempersoalan bahasa-bahasa yang serumpun untuk mencari kekerabatannya, bidang yang digunakan untuk mengadakan perbandingan adalah fonologi dan morfologi. (2) mengadakan rekontruksi bahasa-bahasa yang ada ini kepada bahasa-bahasa purba (bahasa proto) untuk menemukan bahasa proto yang menurunkan bahasa-bahasa modern saat ini. (3) mengadakan pengelompokan (sub grouping) bahasa-bahasa yang termasuk dalam suatu rumpun bahasa. (4) berusaha menemukan pusat-pusat penyebaran bahasa-bahasa proto (pusat penyebaran (Homeland/Centre of Gravity/Negeri Asal) dari bahasa kerabat serta menentukan gerak migrasi yang pernah terjadi.



B.     Bahasa Ainu dan Basque
Bahasa Ainu adalah salah satu rumpun bahasa Ainu yang dituturkan oleh suku Ainu. Penutur bahasa ini adalah suku Ainu yang tinggal di Hokkaido Jepang serta Sakhalin dan Kepulauan Kuril di Rusia. Bahasa Ainu tidak memiliki hubungan dengan bahasa Jepang selain sejumplah kosata yang dipinjam dari bahasa Jepang. Bahasa Ainu mulanya merupakan bahasa lisan yang tidak mempunyai bahasa tulis, akan tetapi sekarang sudah ada beberapa pemerhati bahasa yang menuliskan bahasa Ainu dalam tulisan latin mengingat kondisi bahasa Ainu yang terancam punah.
Bahasa Basque adalah bahasa yang dituturkan oleh orang Basque yang mendiami Pyrenea di utara – tengah Spanyol dan bersebelahan dengan kawasan utara-barat Perancis. Bahasa Basque merupakan bahasa terasing dari bahasa bahasa Indo-Eropa meskipun suku Basque mendiami benua Eropa.
Bahasa Ainu dan Basque menurut Prof. Shiro Hattori mempunyai banyak persamaan, bahkan beliau memberikan hipotesisnya yang menyatakan bahwa ada kemungkinan bahasa Aiunu dan Basque memiliki hubungan kekerabatan yang dekat, yang ia tunjukan melalui beberapa leksikon nama-nama dalam bahasa Ainu yang memiliki kemiripan dengan bahasa Basque. Oleh karena itu untuk menguji hepotesa tersebut, makalah ini akan dicoba untuk menganalisis kekerabatan bahasa Ainu dan Basque dengan menggunakan metode analsis Leksikostatistik.
Leksikostatistik adalah suatu teknik dalam pengelompokan bahasa yang lebih cenderung mengutamakan peneropongan kata-kata (leksikon) secara statistik, untuk kemudian berusaha menetapkan pengelompokan itu berdasarkan prosentase kesamaan dan perbedaan suatu bahasa dengan bahasa lainnya (Keraf, Goyrs 1983:121). Langkah-langkah yang harus ditempuh sebelum menggunakan teknik-teknik metode leksikostatistik adalah (1) peneliti harus mengumpulan kosa kata dasar bahasa kerabat. (2) menetapkan pasangan-pasangan mana dari kedua bahasa tadi adalah kata kerabat (kognat). (3) menghitung usia atau waktu pisah kedua bahasa, dan (4) menghitung jangka kesalahan untuk menetapkan kemungkinkan waktu pisah yang lebih tepat.




C.    Analisis Leksikostatistik Bahasa Ainu dan Basque
Dari 119 daftar kosa kata yang dikemukakan oleh Prof. Shiro Hattori, peneliti menemukan kosa kata dasar yang sama (Gloss) sebanyak 18 kosa kata.
Tabel 1
18 Kosa Kata Dasar Bahasa Ainu dan Basque
No.
Gloss
Ainu
Basque
Hasil
       1.
Mengeluh
Taspare
Asparen
+
       2.
Tangan
Aske
Esku
+
      3.
Ibu jari
Poro monpeh
erpuru
-
       4.
Kemaluan wanita
Pok
Puki
+
       5.
Berjalan/ Pincang
Hera
Herren
-
       6.
Kotoran
Tur
Lur
-
       7.
Membungkuk
Hotkuku
Kukutu
-
       8.
Tidur
Mokor
Makar
-
       9.
Rasa sakit
Tasum
Eritasum
-
      10.
Wanita
Meneko
Eme
+
11.
Saudara kandung
Uriwahnecin
Aurride
-
12.
Menunduk
Umusa
Kilimusi
-
13.
Memuji
Omonnure
Omendatu
+
14.
Mengomel
Kokor unpeki
Gogor egin
-
15.
Menolak
Kukocan
Uko egin
-
16.
Mencuri
Iska
Xiskatu
-
17.
Uang
Ikoro
Koro
+
18.
Tanpa alas kaki
Hantasine
Hankagorri
-
kognat
8

18
Setelah mendapatkan atau menetapkan kosa kata dasar dan menghitung jumlah kata kerabat kemudian langkah selanjutnya adalah menghitung prosentase kata-kata kerabat agar bahasa itu bisa dimasukan dalam klasifikasi bahasa-bahasa kerabat. Rumus penghitungannya adalah kognat dikali (x) 100% dibagi gloss. Atau dapat ditulis dengan seperti ini:
      8      x 100 %  = 44,4%
         18 

Dari hasil yang telah dihitung melalui metode leksikostatistik antara bahasa Ainu dan Basque didapatkan bahwa prentase kekerabatan kedua bahasa ini mencapai 44,4% maka dapat disimpulkan bahwa bahasa Ainu dan Basque merupakan dari keluarga yang sama atau family.

Tabel 2
Klasifikasi Tingkat Kekerabatan Bahasa
No
Tingkatan Bahasa
Prosentase Kata Kerabat
1.       
Bahasa (Language)
100-81
2.       
Keluarga (Family)
81-36
3.       
Rumpun (Stock)
36-12
4.       
Mikrofilum
12-4
5.       
Mesofilum
4-1
6.       
Makrofilum
1 kurang dari 1%

 * Dalam membaca 119 daftar kosakata yang diberikan oleh Prof. Shiro Hottori harus lebih cermat karena sangat penting dalam menentukan Gloss. Gloss ditetepkan bukan karena kesamaan bentuk fonetis/bunyi pengucapan melainkan pada kesamaan bentuk makna. untuk lebih detail lagi baca buku Keraf Goyrs Linguistik Bandingan Historis. Analisis ini masih banyak kekurangan dan tentunya memang disengaja agar tidak jadi ajuan inti untuk mahasiswa yang akan mendapat tugas ini.




Daftar Pustaka
Keraf, Goyrs. 1983. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Oleh:  Wahyu Wiji Nugroho (22/10/2012)